Ekspor Lele ke Kanada dan Korea, Kenapa Tidak?

0
44
views

Cirebon – Banyak orang beranggapan memelihara ikan lele gampang. Namun, hanya sedikit pembudidaya catfish ini yang mampu panen setiap hari mencapai rata-rata hingga tiga ton. Pasar global pun jadi incaran.

Suganda, bersama Pokdakan Kersa Mina Mulya Bakti yang diketuainya, adalah sedikit kelompok budidaya ikan yang berhasil. Suganda sendiri memang bukan orang baru. Sejak 1998, lulusan Paket C ini sudah berkecimpung dengan usaha lele. Awalnya kecil-kecilan, hingga ia termotivasi oleh penyuluh perikanan dari Kementerian Perikanan dan Kelautan (KKP) yang memberikan edukasi tentang tata cara budidaya.

“Keluarga saya keluarga petani, petani padi. Saya masuk ke dunia perikanan coba-coba dan tertarik setelah mendapat ilmu dari penyuluh,” kenang lelaki asal Desa Kertasura Kecamatan Kapetakan Cirebon itu, saat dihubungi melalui telepon seluler, Kamis (4/11/2021).

Ia sebenarnya tak langsung memilih lele untuk dibudidayakan, melainkan mencobanya pada gurami, nila dan mas. Dalam perjalanan usaha, kondisi geografis Cirebon yang merupakan daerah pesisir, menggiringnya untuk beralih ke lele. Wilayah pesisir yang jarang ada air mengalir serta kandungan oksigennya rendah memang lebih cocok untuk lele yang terkenal tahan banting.

“Lele memiliki karakter dan perawatan yang unik, tidak terlalu sulit jika dibandingkan dengan ikan yang lain. Faktor alam gak bisa kita ubah kan. Nah di situ tantangannya kita harus berani berinovasi,” cerita pehobi bulutangkis ini.

Inovasi yang dimaksud Ganda, begitu panggilan akrabnya, yaitu mencoba berbagai jenis lele untuk mengetahui mana yang paling cocok dikembangkan. Jenis lele yang pernah ia coba budidayakan adalah Lele Afrika dan Lele Sangkuriang. Sekarang, ia fokus membudidayakan Lele Mutiara, varietas unggul terbaru yang dirilis oleh Balai Penelitian Pemuliaan Ikan (BPPI) Sukamandi, Subang, Jawa Barat pada 27 oktober 2014. Lele Mutiara hasil seleksi persilangan empat strain Lele Afrika yang ada di Indonesia.

Tentu Ganda bukan pemain tunggal. Di lahan seluas 35 hektare, bersama 16 rekan Pokdakan Kersa Mulya Bakti, pola penjualan harian rata-rata dua hingga tiga ton Lele Mutiara mereka atur secara ketat. Khususnya pengaturan waktu penanaman benih, hingga penjualan yang harus berdasarkan Standard Operating Procedure (SOP).

“Dalam SOP itu kita atur kapan harus tanam, hingga kapan harus panen dan jual. Setiap anggota yang mau menanam harus lapor dulu ke pengurus, biar menyesuaikan umur dan ukurannya, sehingga setiap hari kita bisa panen memenuhi permintaan konsumen,” jelasnya seraya mengatakan Pokdakan Kersa Mina Mulya Bakti selalu memberdayakan masyarakat sekitar di setiap kali panen.

Untung sudah pasti diraih, apalagi berkat tertib akan SOP, produk lele Pokdakan Kersa Mulya Bakti telah mengantongi sertifikat Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB) dari KKP. Pasar internasional mulai menjadi incaran. Bekerjasama dengan PT Sumber Laut Bengindo, mulai dilakukanlah ekspor ke Kanada. Tak hanya itu, di masa Pandemi Covid-19 sekalipun, Korea yang dikenal masyarakatnya sebagai pecinta hidangan laut, juga dirambah.

Nah, ketika masuk ke pasar global ini, ada SOP baru yang harus diikuti. Lele yang diekspor harus memenuhi quality control. “Harus bersih, dibuang perut dan insang. Dalam prosesnya kita menerapkan prinsip untuk memenuhi standar kesehatan internasional dan standar pemerintah untuk ekspor. Modelnya dibuat fillet, dibuka tengah, atau bentuk ikan terbang seperti yang ada di rumah makan, karena permintaan terbesar kita dari rumah makan,” terangnya.

Terbukanya pasar luar negeri tak lantas membuat Pokdakan Kersa Mina Mulya Bakti lupa akan pasar lokal. Mereka tetap harus memenuhi permintaan konsumen di Cirebon, Kuningan, Majalengka, hingga Jawa Tengah dan Jabodetabek. Dukungan Lembaga Pengelola Modal Usaha Kelautan dan Perikanan (LPMUKP) membuat Pokdakan Kersa Mina Mulya Bakti tetap percaya diri memenuhi permintaan konsumen.

Prinsipnya, ujar Ganda, menjalankan usaha harus selalu memiliki pemikiran terbuka dan mau belajar. Harus rela mengesampingkan ego. Tak masalah pendidikan formal terbatas, yang penting punya semangat untuk mau belajar. “Selain itu, kita juga kalau dikasih amanah mengelola modal usaha, harus dijaga jangan sampai cacat. Bagi kami, kepercayaan itu akan kita bawa ke mana-mana dan sangat pengaruh bagi hidup kita,“ ujarnya menyudahi percakapan.

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here