Menyelami Kelezatan Ikan Kayu, Kuliner Khas Aceh dengan Sejarah yang Unik

0
493
views

Aceh, selain terkenal akan budaya dan sejarahnya juga menyimpan berbagai kelezatan kuliner khasnya yang unik. Salah satunya adalah Ikan Kayu berbahan dasar ikan tongkol atau yang dikenal sebagai keumamah di wilayah Aceh. Nama unik ini tidak hanya mencerminkan cita rasa, tetapi juga mengandung kisah unik di balik pembuatannya.

Ikan kayu diyakini muncul sebagai hasil dari kondisi sulit yang pernah dialami Aceh selama periode perang yang berkepanjangan dulu. Warga Aceh, yang hidup dalam ketegangan akibat perang, beradaptasi untuk bertahan hidup hingga akhirnya menciptakan kuliner awet dari bahan dasar ikan ini.

Salah satu pengusaha yang menggeluti usaha meracik kelezatan ikan kayu saat ini adalah M. Gade (50), yang telah menggeluti usaha ini sejak tahun 2010. Menurutnya, ikan kayu dinamakan demikian karena bentuknya yang setelah dikeringkan menyerupai kayu kering.

“Ikan kayu sendiri itu ikan tongkol yang dikeringkan selama beberapa hari. Bentuknya yang kering membuatnya terlihat seperti kayu,” jelas M. Gade melalui sambungan telepon.

Proses pembuatan ikan kayu sendiri melibatkan serangkaian proses sebelum akhirnya sampai ke tangan konsumen. Biasanya membutuhkan waktu 3-4 hari untuk menghasilkan ikan kayu berkualitas. Mulai dari penyiangan, penaburan garam, perebusan, pembuangan tulang, hingga pengeringan. Menurut Gade, penggunaan garam dan proses pengeringan adalah kunci agar ikan kayu dapat bertahan lama hingga berbulan-bulan tanpa menghilangkan cita rasa gurih ikan tongkol.

Selanjutnya dalam mengolah ikan kayu masyarakat Aceh umumnya menggunakan teknik tumis. Prosesnya ikan kayu diiris tipis lalu direndam air panas sebelum dimasak dengan rempah lain, seperti cabai rawit, cabai merah, bawang merah, dan beberapa bahan tambahan lainnya. Adapun bahan tambahan, seperti asam sunti dan belimbing wuluh yang sudah dikeringkan, memberikan variasi pada rasa dan tekstur ikan kayu. Bahkan, ikan kayu dapat dicampur juga dengan kentang untuk variasi isian tambahan.

Dalam sehari biasanya Gade mampu mengolah 10-15 keranjang ikan tongkol dengan bobot perkeranjang mencapai 30 kg. Menurutnya, jumlah produksi ini sangat tergantung pada kondisi pasar. Yakni ketika harga ikan segar turun maka produksi biasanya ditambah, begitupun sebaliknya.

Sebelum mendapatkan dukungan modal dari Lembaga Pengelola Modal Usaha Kelautan dan Perikanan (LPMUKP), Gade mengakui bahwa awalnya sulit untuk berkembang karena modal yang terbatas. Namun, dengan bantuan modal, usahanya kini terus meningkat.

“Dari sebelumnya hanya dapat untung pas-pasan sekarang alhamdulillah, ekonomi keluarga pun mulai membaik,” ungkap Asni istri dari Gade.

Selanjutnya mengenai penjualan, Gade mengaku saat ini dilakukan langsung oleh Asni dengan dibantu oleh dua orang adiknya. Mereka membuka lapak di pasar induk Desa Lambaru dan menjual ikan kayu dengan harga berkisar Rp30.000-50.000 per kilogram. Dengan keunikan cerita di balik ikan kayu dan semangat pengusaha lokal seperti M. Gade, kuliner khas Aceh dapat terus berkembang dan juga memberikan manfaat secara ekonomi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here