Dari Pokdakan Menuju Minapolitan

0
59
views

Klaten – Memanfaatkan potensi alam sumber air jernih dan deras, Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Karya Mandiri Klaten berhasil dalam budidaya ikan nila merah dengan sistem tebar padat. Keberhasilan yang mendorong munculnya banyak pembudidaya ikan baru, sehingga terbentuk Kawasan Minapolitan.

Banyak warga Kabupaten Klaten, khususnya yang tinggal di wilayah Kecamatan Tulung, Polanharjo, dan Karanganom, menjalankan usaha pengolahan hingga pemasaran ikan nila merah, sehingga menjadi sentra produksi atau kawasan minapolitan. Ikan jenis ini memang lebih berkembang pada aliran deras dari gaya gravitasi, karena kadar oksigennya yang terjaga bagus bagi perkembangan ikan.

Pokdakan Karya Mandiri boleh dikatakan satu dari sekian banyak kelompok pembudidaya ikan yang memanfaatkan betul potensi alam tersebut. Terutama keberhasilan mereka membudidaya ikan nila merah dengan sistem air deras tebar padat. “Kita bersyukur, karena tidak semua daerah ada potensi seperti ini. Tapi, ini harus dimanajemen dengan baik,” tutur Pandu Sujatmiko, Ketua Pokdakan Karya Mandiri, melalui sambungan telepon, Senin (15/11/2021).

Sistem tebar padat baru secara profesional dilakukan pada 2007 dengan menggunakan Dana Alokasi Khusus (DAK). Sebelumnya, pada tahun 90-an sampai 2006, masih menggunakan sistem tradisional.

Berkat sistem baru tersebut, budidaya nila yang dulunya hanya sebagai usaha sampingan warga, kini menjadi mata pencaharian utama. Rata-rata panen setiap 3,5-4 bulan sekali dengan 3-4 ton/kolam/panen. Dengan harga saat ini Rp25ribu/kg.

Sebenarnya, harga sekarang masih di bawah normal sekitar tiga ribuan dibanding sebelum. Pandemi Covid-19. Bahkan, di awal pandemi tahun lalu, permintaan pasar sempat menurun drastis dari yang semula empat ton perbulan menjadi hanya satu kuintal.

Sebuah cara kreatif menghadapi penurunan pasar dilakukan Pandu dan kawan-kawan, yakni menjadi supplier ikan segar ke salah satu pondok pesantren di Klaten dengan permintaan 2.000 ekor perminggu.

Bagi Pandu, kunci usaha untuk bertahan adalah sistem manajemen, baik dari aspek kolam, benih, dan sumber daya manusia (SDM). Kondisi kolam yang baik memiliki air yang murni tanpa timbal atau tercemar pabrik. Benih yang baik harus unggul yang dibeli dari Balai Benih Ikan (BBI) dengan Standar Nasional Indonesia (SNI). “Setelah air, benih yang utama. Kelangsungan genetika perlu diperhatikan,” tegasnya.

Terakhir, yang tidak kalah penting adalah SDM. “Petani-petani kita pandai tapi otodidak sehari-hari, harus ada teori. Teori itu penting termasuk SOP,” kata lulusan STIE Ekonomi itu.

Oleh karena itu, Pandu mengikuti berbagai pelatihan hingga mampu menjadi pengelola Pusat Pelatihan Mandiri Kelautan dan Perikanan (P2MKP). Bahkan, ia berhak melatih petani ikan dan mengeluarkan sertifikat untuk mereka.

Keseriusan Pandu dalam menjalankan Pokdakan Karya Mandiri, termasuk keberhasilan mereka selama ini, membuat Lembaga Pengelola Modal Usaha Kelautan dan Perikanan (LPMUKP) yakin memberikan pinjaman modal. Pinjaman telah cair pada awal 2021, yang digunakan untuk pembelian pakan, benih, renovasi kolam, dan pembuatan kolam baru.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here