Rajin Beri Makan Ikan, Peroleh Kehidupan

0
77
views

Batanghari – Rajin-rajinlah memberi ikan makan, rajin pula ikan memberi kita makan. Atas dasar keyakinan itulah, M Yani (49) sehari empat kali memberi makan ikan nila budidaya dalam keramba yang membentang di Sungai Batanghari.

“Kasih dia pakan pagi, siang, sore, malam. Alhamdulillah hasilnya beda. Orang empat bulan panen, bapak tiga bulan. Pakannya yang kita kejar,” tuturnya dengan nada senang lewat sambungan telepon, Kamis (25/11/2021).

Ia memiliki 30 keramba di Desa Aro dengan sistem Keramba Jaring Apung (KJA). Rata-rata berukuran 12 meter, yang terbesar mencapai 15 meter. Semula semua untuk budidaya nila, belakangan ia juga merintis patin. Harga jual nila Rp25ribu perkilogram, sedangkan patin Rp22 ribu.

Budidaya di sungai umumnya menghasilkan daging ikan yang lebih enak dibanding kolam. Hanya saja, harus sabar bersahabat dengan alam. Keramba gampang jebol oleh arus deras sungai bila debit air naik. Beruntung selama ini, bila ada keramba yang jebol, ikannya tidak langsung habis. Itu berkat jaring keramba yang dipasangnya dua lapis.

Yani tidak sendiri. Ia mengetuai Kelompok Budidaya Ikan (Pokdakan) Sekintang Dayo Aro yang mengelola sekitar 80 keramba. Hampir tiap hari mereka panen mencapai rata-rata dua ton. Melimpahnya jumlah ikan mengharuskan pengaturan panen agar harga jual tidak anjlok.

Pun demikian dengan pemasaran, harus dipikirkan bersama. Tidak bisa hanya memikirkan pemasaran hasil panen sendiri. Apalagi, hampir seluruh warga Desa Aro adalah pembudidaya. Pasar lokal menjadi terasa sempit.

Yani lantas berinisiatif membuka pasar di kabupaten lain. “Sekarang lagi cari pasaran ke luar karena sudah over kapasitas. Jalanlah dulu ke sana ke Tebo, Muaro Bungo, minta bantuan kawan, alhamdulillah pasar sudah ketemu, tinggal antarnya,” ujar pria yang memiliki tiga anak itu.

Selain tantangan transportasi yang membutuhkan jarak tempuh tiga sampai empat jam, tantangan lain membuka pasar baru adalah pembelian ikan yang tidak dibayar secara cash. Pembayaran akan dilakukan pada pengantaran ikan selanjutnya. “Yang penting pasar kita kebuka. Antaran kedua bayar pertama, begitu seterusnya,” jelas Yani.

Tertatanya operasional dan sistem budidaya yang diterapkan dalam Pokdakan Sekintang Dayo Aro membuat para pengelolanya memiliki waktu kerja yang sangat efisen. Yani pun banyak memiliki waktu senggang, yang kemudan ia manfaatkan untuk mengelola usaha mebel.

Sebenarnya, bisnis permebelan bukanlah hal baru baginya. Ceritanya begini, ujar Yani, ia pernah kena PHK dari tempatnya bekerja pada tahun 2000. Saat itulah ia sempat mencari peruntungan di usaha mebel. Ternyata tak terlalu menjanjikan, sehingga pada 2004 ia terjun ke budidaya ikan.

“Orang rumah (istri) awal-awal kurang mendukung, karena awal budidaya rugi Rp1,5 juta. Itu karena masih ragu-ragu, ikan gak pernah ditengok. Akhirnya (istri) mendukung, karena pada panen kedua berhasil,” kisahnya.

Waktu berlalu, pada 2020, Yani dan kawan-kawan mendapatkan pinjaman modal dari Lembaga Pengelola Modal Usaha Kelautan dan Perikanan (LPMUKP). Melalui badan layanan umum (BLU) di bawah Kementerian Kelautan dan Perikanan yang dipimpin Sakti Wahyu Trenggono itu, ia memperolah modal untuk mengembangkan usaha, mulai dari pembelian bibit, pakan, dan membuat keramba.

Ia berharap bantuan permodalan bergulir ini dapat menyentuh masyarakat secara luas. Harus semakin banyak lagi pelaku usaha yang didanai, khususnya perseorangan agar bisa sama-sama berkembang.

Selain itu, diperlukan pengelolaan satu pintu untuk penjualan ikan. Dengan demikian, akan ada pemasukan bagi desa yang dapat memicu berkembangnya wilayah Sentra Ikan Nila itu. Pada akhirnya, lapangan kerja terbuka dan perekonomian masyarakat meningkat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here