Andrie Ingin Bangun Sentra Ikan Kayu Bitung

0
49
views

Bitung – Pernah berjaya lalu mengalami collapse, tak membuat Andrie Costantin (39) mundur dari usaha ikan olahan. Dukungan dana bergulir dari pemerintah membantunya kembali bangkit.

Pria asli Jakarta, ini telah lama merantau ke Bitung, Sulawesi Utara. Sejak 2005, ia bekerja menampung ikan di Siauw, Tahuna, Talaud, dan sekitarnya. Dari hanya memiliki satu kapal, kemudian menjadi tiga yang dioperasikannya di sekitar perairan ujung utara Nusantara itu.

Pada 2007, ia melakukan ekspor ikan. Namun sayang, dua tahun kemudian, usahanya collapse akibat krisis di negara pengimpor. Uang muka yang telah diberikan rekanan terpaksa dikembalikan, sementara ikan masih tertahan, belum diproses ekspor. “Rugi besar,” ungkapnya saat berkisah melalui sambungan telepon, Selasa (9/11/2021).

Sekitar setahun kemudian, pada 2010, ia mencoba bangkit. Modal awalnya adalah asuransi yang berhasil dicairkan berkat bantuan seorang teman. Mulailah kembali ia perlahan menjalankan usaha.

Titik balik Andrie bisa dikatakan sejak ia mulai mengembangkan usaha pengolahan ikan kayu pada 2019. Ikan kayu ada olahan ikan cakalang yang melalui serangkaian proses hingga bentuknya menjadi keras seperti kayu dan berwarna hitam kecoklatan. Saat akan dikonsumsi, ikan kayu harus diserut terlebih dahulu sebelum diolah menjadi beragam hidangan. Kota Bitung dan Kabupaten Minahasa Selatan merupakan sentra pengolahan ikan kayu di Sulawesi Utara.

Dalam mengembangkan usaha pengolahan ikan kayu miliknya, Andrie tentu saja membutuhkan tambahan modal. Di situlah ia berkenalan dengan Wenny Rantung, pendamping debitur dari Lembaga Pengelola Modal Usaha Kelautan dan Perikanan (LPMUKP), yang membukakannya jalan baginya menjadi pemanfaat dana bergulir dari Badan Layanan Umum (BLU) di bawah Kementerian Kelautan dan Perikanan itu.

Dana bergulir yang didapat pada 2021, ia gunakan untuk putaran operasional pabrik pengolahan ikan kayu yang berlokasi di Kelurahan Tanjung Merah, Bitung. Pinjaman juga dipakai untuk pembelian ikan mentah, dan sebagian lagi untuk proses ekspor.

Dalam menjalankan usaha pengolahan ikan kayu ini, Andrie bekerjasama dengan Yoseph Palinggi di Koperasi Serba Usaha (KSU) Bahari Jaya. Ada sekitar 30 orang yang terlibat dalam pabrik pengelolaan ikan hingga akhirnya bisa diekspor. Visi yang sama dalam menjalankan KSU, mengantarkan mereka melakukan ekspor perdana ikan kayu ke Jepang pada Oktober 2021 ini.

“Saya kebantu banget untuk bernapas, bank balik badan saat covid datang, jadi kebantu banget saya,” ungkap Andrie.

Setelah melalui naik turun berusaha, Andrie yakin kunci untuk bertahan adalah konsistensi. Ke depan, ia ingin menjadikan pabriknya sebagai sentra usaha pengolahan ikan kayu dengan quality control terbaik dan representatif bagi konsumen. Suasana pabrik pun akan dibuat menarik untuk tamu dan buyer.

“Kita butuh banyak bantuan pemerintah. Banyak yang harus di-back up dengan pinjaman bunga kecil, yang prosesnya cepet, menyentuh langsung masyarakat,” lugasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here